Minggu, 30 September 2012

Pengertian layanan pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus (Tunagrhita)


Pengertian layanan pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus (Tunagrhita)
Layanan pada kakikatnya merupakan bentuk jasa yang diberikan oleh seseorang, institusi atau perusahaan kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan. Dalam beberapa terminologi, Istilah layanan diartikan sebagai (1) cara melayani; (2) usaha melayani kebutuhan orang lain dengan memperoleh imbalan (uang); (3) kemudahan yang diberikan sehubungan dengan jual beli jasa atau barang.
Anak berkebutuhan tersebut sebagian besar dapat mengikuti layanan pendidikan sebagaimana anak-anak normal pada umumnya. Kendati demikian, tentu ada anak-anak berkebutuhan khusus yang memang memerlukan layanan individual, karena kondisi dan keadaannya yang tidak memungkinkan untuk mengikuti layanan sebagaimana anak-anak normal.
Dari segi waktu, pemberian layanan pada anak berkebutuhan khusus juga sangat bervariasi. Tidak semua anak-anak berkebutuhan khusus memerlukan layanan sepanjang hidupnya, ada kalanya layanan bagi mereka bersifat temporer. Anak-anak mungkin hanya membutuhkan layanan dalam beberapa periode waktu. Contohnya, anak-anak tunanetra membutuhkan layanan orientasi dan mobilitas hanya diperlukan pada tingkat satuan pendidikan Sekolah Dasar. Ada beberapa jenis layanan yang bisa diberikan kepada anak-anak berkebutuhan khusus, sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Namun secara umum akan mencakup (1) layanan medis dan fisiologis, (2) layanan sosial-psikologis, dan (3) layanan pedagogis/pendidikan. Beberapa jenis layanan tersebut diberikan oleh para ahli yang kompeten pada bidangnya masing-masing, dan dilakukan berdasarkan kebutuhan anak. Begitu pula layanan yang harus diberikan kepada anak tungrahita harus mencakep semua aspek layanan tersebut baik  layanan medis dan fisiologis, layanan sosial-psikologis, dan layanan pedagogis/pendidikan. . 
Pendekatan layanan pendidikan bagi anak tunagrahita lebih diarahkan pada pendekatan individual dan pendekatan remediatif . Pendekatan individual  didasarkan pada assesment kemampuan untuk mengembangkan sisa potensi yang ada dalam dirinya. Tujuan utama layanan pendidikan bagi anak tunagrahita adalah penguasaan kemampuan aktivitas kehidupan sehari-hari dalam mengelola diri sendiri. Untuk mencapai itu perlu pembelajaran mengurus diri sendiri dan pengembangan keterampilan vocational terbatas sesuai kemampuannnya.
Layanan pendidikan khusus bagi anak tunagrahita meliputi latihan sensomotorik, terapi bermain dan okupasi, dan latihan mengurus diri sendiri. Pendekatan pembelajaran dilakukan secara individual dan remediatif. Perkembangan kemampuan anak berdasarkan tingkat kemampuan kognitifnya. Anak yang ber IQ 55 - 70   berbeda dengan yang ber IQ 35 – 55. Sehingga dalam sebaran IQ tersebut juga  berbeda dalam layanan masing-masing.
Ciri Khas Pelayanan
Anak tunagrahita walaupun mengalami hambatan intelektual, dapat mengaktualisasikan potensinya asalkan mereka diberi kesempatan untuk mengikuti pendidikan dengan pelayanan khusus. Melalui pelayanan ini mereka akan mampu melaksanakan tugasnya sehingga dapat memiliki rasa percaya diri dan harga diri.
Hal yang paling penting dalam pendidikan anak tunagrahita adalah memunculkan harga diri sehingga mereka tidak menarik diri dan masyarakat tidak mengisolasi anak tunagrahita karena mereka terbukti mampu melakukan sesuatu. Pada akhirnya anak tunagrahita mendapat tempat di hati masyarakat, seperti anggota masyarakat umumnya.
Untuk mencapai harapan tersebut diperlukan pelayanan yang memiliki ciri-ciri khusus dan prinsip khusus, sebagai berikut.
a. Ciri-ciri khusus
1.      Bahasa yang digunakan
Bahasa yang digunakan dalam berinteraksi dengan anak tunagrahita adalah bahasa sederhana, tidak berbelit, jelas, dan gunakan kata-kata yang sering didengar oleh anak.
2.      Penempatan anak tunagrahita di kelas
Anak tunagrahita ditempatkan di bagian depan kelas dan berdekatan dengan anak yang kira-kira hampir sama kemampuannya. Apabila ia di kelas anak normal maka ia ditempatkan dekat anak yang dapat menimbulkan sikap keakraban.
3.      Ketersediaan program khusus
Di samping ada program umum yang diperkirakan semua anak di kelas itu dapat mempelajarinya perlu disediakan program khusus untuk anak tunagrahita yang kemungkinan mengalami kesulitan.
b. Prinsip khusus
1.    Prinsip skala perkembangan mental
Prinsip ini menekankan pada pemahaman guru mengenai usia kecerdasan anak tunagrahita. Dengan memahami usia ini guru dapat menentukan materi pelajaran yang sesuai dengan usia mental anak tunagrahita tersebut. Dengan demikian, anak tunagrahita dapat mempelajari materi yang diberikan guru. Melalui prinsip ini dapat diketahui perbedaan antar dan intraindividu.
Sebagai contoh: A belajar berhitung tentang penjumlahan 1 sampai 5. Sementara B telah mempelajari penjumlahan 6 sampai 10. Ini menandakan adanya perbedaan antarindividu.
Contoh berikut adalah perbedaan intraindividu, yaitu C mengalami kemajuan berhitung penjumlahan sampai dengan 20. Tetapi dalam pelajaran membaca mengalami kesulitan dalam membedakan bentuk huruf.
2.      Prinsip kecekatan motorik
Melalui prinsip ini anak tunagrahita dapat mempelajari sesuatu dengan melakukannya. Di samping itu, dapat melatih motorik anak terutama untuk gerakan yang kurang mereka kuasai.
3.      Prinsip keperagaan
Prinsip ini digunakan dalam mengajar anak tunagrahita mengingat keterbatasan anak tunagrahita dalam berpikir abstrak. Oleh karena sangat penting, dalam mengajar anak tunagrahita dapat menggunakan alat peraga. Dengan alat peraga anak tunagrahita tidak verbalisme atau memiliki tanggapan mengenai apa yang dipelajarinya. Dalam menentukan alat peraga hendaknya tidak abstrak dan menonjolkan pokok materi yang diajarkan. Contohnya, anak belajar membaca kata “bebek”, alat peraganya adalah tulisan kata bebek harus tebal sementara gambar bebek harus tipis. Maksudnya, gambar bebek hanyalah untuk membantu pengertian anak.
4.       Prinsip pengulangan
Berhubung anak tunagrahita cepat lupa mengenai apa yang dipelajarinya maka dalam mengajar mereka membutuhkan pengulangan-pengulangan disertai contoh yang bervariasi. Oleh karena itu, dalam mengajar anak tunagrahita janganlah cepat-cepat maju atau pindah ke bahan berikutnya sebelum guru yakin betul bahwa anak telah memahami betul bahan yang dipelajarinya.
Contohnya, C belajar perkalian 2 (1x2, 2x2,). Guru harus mengulang pelajaran itu sampai anak memahami betul arti perkalian. Barulah kemudian menambah kesulitan materi pelajaran, yakni 3 2, 4 2, dan seterusnya.
Pengulangan-pengulangan seperti itu, sangat menguntungkan anak tunagrahita karena informasi itu akan sampai pada pusat penyimpanan memori dan bertahan dalam waktu yang lama.
5.      Prinsip korelasi
Maksud prinsip ini adalah bahan pelajaran dalam bidang tertentu hendaknya berhubungan dengan bidang lainnya atau berkaitan langsung dengan kegiatan kehidupan sehari-hari anak tunagrahita.
6.      Prinsip maju berkelanjutan
Walaupun anak tunagrahita menunjukkan keterlambatan dalam belajar dan perlu pengulangan, tetapi harus diberi kesempatan untuk mempelajari bahan berikutnya dengan melalui tahapan yang sederhana. Jadi, maksud prinsip ini adalah pelajaran diulangi dahulu dan apabila anak menunjukkan kemajuan, segera diberi bahan berikutnya. Contohnya, menyebut nama-nama hari mulai Senin, Selasa, dan Rabu. Ulangi dahulu nama hari Senin, Selasa, Rabu, kemudian lanjutkan menyebut Kamis, Jumat Sabtu, Minggu.
7.      Prinsip individualisasi
Prinsip ini menekankan perhatian pada perbedaan individual anak tunagrahita. Anak tunagrahita belajar sesuai dengan iramanya sendiri. Namun, ia harus berinteraksi dengan teman atau dengan lingkungannya. Jadi, ia tetap belajar bersama dalam satu ruangan dengan kedalaman dan keluasan materi yang berbeda.
Contohnya, pada jam 8.00 murid kelas 3 SDLB belajar berhitung. Materi pelajaran anak-anak itu berbeda-beda sehingga terdiri dari 3 kelompok. Kelompok 1 harus ditunggui barulah ia akan belajar, sedangkan kelompok 2 cukup diberi penjelasan dan langsung mengerjakan tugasnya.

2. Model Layanan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Bentuk Layanan Anak Berkebutuhan Khusus Layanan Pendidikan Inklusif   (Inclusive Education)

Sejalan dengan perkembangan layanan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus, terdapat kecenderungan baru yaitu model Pendidikan Inklusif. Model ini menekankan pada keterpaduan penuh, menghilangkan labelisasi anak dengan prinsip “Education for All”. Layanan pendidikan inklusif diselenggarakan pada sekolah reguler. Anak tunagrahita belajar bersama-sama dengan anak reguler, pada kelas dan guru/pembimbing yang sama. Pada kelas inklusi, siswa dibimbing oleh 2 (dua) orang guru, satu guru reguler dan satu lagu guru khusus. Guna guru khusus untuk memberikan bantuan kepada siswa tunagrahita jika anak tersenut mempunyai kesulitan di dalam kelas. Semua anak diberlakukan dan mempunyai hak serta kewajiban yang sama. Tapi saat ini pelayanan pendidikan inklusif masih dalam tahap rintisan.
Berikut ini beberapa model pembeljaran yang bisa di gunakan untuk anak tuna grahita yang ada di sekolah inklusi, beberapa model ini lebih mengedepankan kerjasama kelompok serta interaksi antara anak tuna grahita tersebut dengan anak lain yang tidak memiliki hambatan di kelas. Hal ini dimaksudkan untuk membantu anak tuna grahita tersebut beradaptasi serta mengembangkan potensi yang dimiliki dengan di bantu oleh teman sebayanya yang tidak memiliki hambatan.    
·         Cooperatif Integrated Reading And Composition (Circ)
Langkah-langkah:
1.      Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang heterogen
2.      Guru memberikan wacana/kliping sesuai topik pembelajaran
3.      Siswa bekerjasama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana kliping dan ditulis pada selembar kertas
4.      Mempresentasikan/membacakan hasil kerja kelompok
5.      Guru membuat kesimpulan bersama
6.       Penutup
·         Make- A Match
Langkah-langkah:
1.      Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang sesuai untuk sesi riview, sebaliknya satu kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban .
2.       Setiap siswa mendapat satu lembar kartu.
3.       Setiap siswa memikirkan jawaban/soal kartu yang dipegang .
4.      Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal-jawaban).
5.      Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin
6.      Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar setiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya
7.       Demikian seterusnya
8.       Kesimpulan/penutup
·         Snowball Throwing
Langkah-langkah:
1.      Guru menyampaikan materi yang akan disajikan
2.       Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil wakil kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi
3.       Wakil kelompok kembali ke kelompoknya, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru.
4.      Masing-masing siswa diberikan satu le4mbar kertas kerja untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh guru
5.       Kemudian kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari siswa ke siswa yang lain.
6.       Setelah siswa dapat satu bola/satu pertanyaan diberikan kesempatan pada siswa untuk menjawab pertanyaan tertulis dalam bola kertas secara bergantian
7.      Penutup
·         Course Review Horay
Langkah-langkah:
1.      Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
2.       Guru mendemonstrasikan/menyajikan materi
3.       Memberi kesempatan bertanya kepada siswa
4.       Siswa menyiapkan sebuah kotak dan beberapa lembar kertas kertas yang sudah diberi nomor-nomor.
5.       Guru membaca soal secara acak dan siswa menuliskan jawaban di kertas-kertas tersebut sesuai nomor yang disebutkan oleh guru dan langsung didiskusikan, jika benar diberi tanda (V) dan jika salah diisi tanda (X)
6.       Siswa yang sudah mendapat tanda V harus berteriak horay… atau yel-yel lainnya
7.       Nilai siswa dihitung dari jawaban benar jumlah horay
8.      Penutup
·         Picture And Picture
Langkah-langkah:
1.      Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
2.      Menyajikan materi sebagai pengantar
3.      Guru menunjukkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi
4.      Guru menunjuk siswa secara bergantian mengurutkan gambar menjadi urutan logis
5.      Guru menanyakan dasar pemikiran urutan gambar tersebut
6.      Dari alasan urutan gambar guru memulai menanamkan konsep sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
7.      Kesimpulan/rangkuman
          Pada intinya pembelajaran pada anak tuna grahita haruslah menggunakan prinsip pembelajaran yang bersifat esensial seperti :
1)      Bahan yang akan diajarkan perlu dipecah-pecah menjadi bagian-bagian kecil dan ditata secara berurutan.
2)      Setiap bagian dari bahan ajar diajarkan satu demi satu dan dilakukan secara berulang-ulang.
3)      Kegiatan belajar hendaknya dilakukan dalam situasi yang konkrit.
4)      Berikan kepadanya dorongan untuk melakukan apa yang sedang ia pelajari.
5)      Ciptakan suasana belajar yang menyenangkan dengan menghindari kegiatan belajar yang terlalu formal.
6)      Gunakan alat peraga dalam mengkonkritkan konsep.


Kelebihan model pendidikan inklusi adalah :
1.      anak akan memperoleh keadilan layanan pendidikan, tidak dibedakan dari  anak normal sehingga secara tidak langsung dapat membangkitkan motivasi  dan gairah belajar di sekolah
2.      anak dapat berpartisipasi dalam kehidupan di sekolah tanpa memandang kekurangan  yang disandang
3.      anak merasakan  perlakuan dan persamaan hak, harkat dan martabat dalam memperoleh layanan pendidikan tanpa membedakan antara yang cacat dan yang normal, dan
4.      anak dapat bergaul dan berinteraksi secara sehat dengan teman-temannya yang normal,  sehingga  meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi berprestasi dalam belajar.
Kekurangan dan kelemahannya adalah
1.      untuk dapat disebut sebagai sekolah inklusi dibutuhkan sarana dan prasarana yang dapat mengakses kebutuhan individual anak yang tidak gampang dipenuhi oleh sekolah yang telah menyatakan diri sebagai sekolah inklusi.
2.      Untuk dapat disebut sebagai sekolah inklusi yang sebenarnya juga dibutuhkan tenaga pendidik dan tenaga non pendidik (seperti dokter, psikolog, konselor, dan sebagainya) yang tidak serta-merta dapat dipenuhi oleh sekolah yang memproklamirkan diri sebagai sekolah inklusi.
3.      Meskipun disebut sebagai sekolah Inklusi yang secara teoritis bisa menerima semua anak  tanpa memandang normal atau tidak normal, namun dalam praktik di lapangan sekolah inklusi biasanya hanya menerima anak cacat yang berkategori  ringan,  bukan yang berkategori sedang atau berat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar