Jumat, 19 Oktober 2012

Model Pembelajaran Terpadu



II.1 Model Kurikulum
Menurut  Nasution ( 2003:76-128) dalam pengembangan kurikulum dikenal ada 3 model pengorganisasian kurikulum yaitu :
1)       Subject curriculum
2)      Correlated curriculum
3)      Integrated curriculum
Subject Curriculum bertujuan agar generasi muda mengenal hasil kebudayaan dan pengetahuan umat manusia yang telah dikumpulkan umat manusia berabad-abad lebih mudah dan lebih cepat membekali diri untuk menghadapi masalah-masalah dalam hidupnya. Kemudahan dan kecepatan tersebut dapat dicapai  karena tinggal mengambil dan tidak perlu mencari kembali tentang sesuatu yang telah ditemukan oleh generasi sebelumnya. Keuntungannya adalah pengetahuan tersebut telah disusun secara logis dan sistematis dalam bentuk disiplin ilmu oleh para ahlidan ilmuan, yang mencakup isi, dan metode berfikir tertentu selanjutnya akan lebih cepat dan dapat dikembangkan.
Correleted Curriculum merupakan modifikasi kurikulum subbject matter yang terpisah-pisah dengan cara mengusahakan atau menggabungkan dua matapelajaran atau lebih yang dapat dipandang sebagai kelompok yang pada hakekatnya mempunyai hubungan erat. Misalnya  IPS ( gabungan dari Sejarah, Geografi dan Ekonomi), IPA (gabungan dari Biologi, Kimia dan Fisika ). Dengan demikian mata pelajaran dapat dikurangi. Terbentuknya kurikulum  gabungan ini didorong oleh usaha mengadakan integrasi dalam pengetahuan anak dan mencegah pengguasaan bahan yang banyak tetapi dangkal dan lepas-lepas sehingga mudah dilupakan dan tidak fungsional.
Integrated curriculum merupakan kurikulum yang terbentuk dengan mengusahakan integrasi dari  berbagai mata pelajaran. Integrasi ini tercapai dengan memusatkan pelajaran pada masalah tertentu yang memerlukan pemecahan dengan bahan dari segala macam mata pelajaran yang diperlukan. Bahan mata pelajaran menjadi intrumental dan fungsional untuk memecahkan masalah itu. Batas-batas pelajaran dapat ditiadakan. Selain memperoleh sejumlah  pengetahuan secara fungsional, kurikulum ini mengutamakan proses belajarnya. Dikatakan cara memperoleh ilmu fungsional  karena ilmu itu dikumpulkan bertalian dengan usaha memecahkan masalah yang nyata di masyarakat.
Bagi siswa sesuai perkembangan usianya, memahami fenomena yang kongkrit lebih mudah daripada yang abstrak. Disamping itu fenomena atau permasalahan yang ada dimasyarakat yang diambil sebagai sumber bahan pelajaran di sekolah adalah sesuatu yang utuh, misalnya: banjir, gempa, tsunami,pasar, keraton, pernikahan dan sebagainya. Untuk pemahaman dan atau pendekatan pembelajaran terhadap fenomena sosial tersebut bagi siswa lebih mudah disajikan secara terpadu daripada terpisah-pisah, karena secara riil menangani permasalahan haruslah secara terpadu. Sedangkan pengenalan disiplin ilmu seperti sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, fisika, biologi adalah pendekatan  keilmuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.
Model pembelajaran terpadu merupakan salah satu model implimentasi kurikulum yang dianjurkan untuk diaplikasikan pada semua jenjang pendidikan, mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD/MI) sampai dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP/MTs). Model pembelajaran terpadu pada hakikatnya merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan siswa baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip secara holistik dan pembelajaran ini merupakan model yang mencoba memadukan beberapa pokok bahasan.
Melalui pembelajaran terpadu siswa dapat memperoleh  pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima , menyimpan dan memproduksi tentang kesan-kesan tentang hal-hal yang dipelajarinya. Dengan demikian, siswa terlatih untuk menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari secara holistik, bermakna, otentik, dan aktif. Cara pengemasan pengalaman belajar yang dirancang guru sangat berpengaruh terhadap kebermaknaan  pengalaman bagi para siswa. Pengalaman belajar lebih menunjukan kaitan unsur-unsur konseptual menjafikan proses pembelajaran lebih efektif. Kaitan konseptual yang dipelajari dengan sisi bidang kajian yang relevan akan membentuk skema (konsep), sehingga siswa akan memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Perolehan keutuhan belajar, pengetahuan, serta kebulatan pandangan tentang kehidupan dan dunia nyata hanya dapat direfleksikan melalui pembelajaran terpadu.
Menurut Ujang Sukandi, dkk (2001:3) pengajaran terpadu pada dasarnya sebagai kegiatan belajar mengajar dengan cara  ini dapat dilakukan dengan mengajarkan beberapa materi pelajaran disajikan tiap pertemuan.
Pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep dapat dikatakan sebagai suatu konsep yang dapat dikatakan sebagai suatu pendekatan belajar mengajar yang mengajarkan beberapa bidang studi;studi  untuk memberikan pengalaman bernakna kepada anak didik. Dikatakan bermakna karena dalam pengajaran terpadu, anak akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari itu melalui pengamatan langsung dan menghubungkannya dengan kosep lain yang mereka pahami.
Pembelajaran terpadu akan terjadi jika kejadian yang wajar atau eksplorasi suatu topik merupakan inti dalam pengembangan kurikulum. Dengan berperan secara aktif di dalam eksplorasi tersebut, siswa akan mempelajari materi ajar dan proses belajar beberapa bidang studi dalam waktu yang bersamaan.
Dalam pernyataan tersebut jelas bahwa sebagai pemacu dalam pelaksanaan pembelajaran terpadu adalah melalui eksplorasi topik. Dalam eksplorasi topik ditingkatkan suatu tema tertentu. Kegiatan pembelajaran berlangsung di seputar tema kemudian baru membahas masalah konsep-konsep pokok yang terkait dalam tema.

II.2 Prinsip Dasar Pembelajaran Terpadu
Menurut Ujang Sukardi, dkk (2001:109), pembelajaran terpadu memiliki satu tema aktual, dekat dengan dunia siswa, dan ada kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Tema ini  menjadi alat pemersatu materi yang beragan dari beberapa materi pelajaran.
Pengajaran terpadu perlu memilih materi dari beberapa mata pelajaran yang mungkin dan saling terkait. Dengan demikian materi-materi yang dipilih dapat mengungkapkan tema secara bermakna. Mungkin terjadi, ada materi pengayaan dalam bentuk contoh aplikasi yang tidak termuat dalam kurikulum, tetapi pengajuan materi pengayaan seperti itu perlu dibatasi dengan mengacu pada tujuan pembelajaran.
Pengajaran terpadu tidak boleh bertentangan dengan tujuan kurikulum yang berlaku, tetapi sebaliknya pembelajaran terpadu harus mendukung pencapaian tujuan pembelajaran yang termuat dalam kurikulum. Materi pembelajaran yang dapat dipadukan tidak perlu terlalu dipaksakan. Artinya, materi yang tidak mungkin dipadukan tidak usah dipadukan.
Secara umum prinsip-prinsip pembelajaran terpadu dapat diklasifikasikan menjadi :
a)                       Prinsip penggalian tema
b)                       Prinsip pengolahan pembelajaran
c)                       Prinsip evaluasi
d)                      Prinsip reaksi

a.         Prinsip Penggalian Tema
Prinsip pemggalian tema merupakan prinsip utama (fokus) dalam pembelajaran terpadu. Artinya tema-tema yang saling tumpang tindih dan ada keterkaitan menjadi target utama dalam pembelajaran. Dengan demikian dalam penggalian tema tersebut hendaklah memperhatikan beberapa persyaratan.
1)        Tema hendaknya tidak terlalu luas, namun dengan mudah dapat digunakan untuk memadukan banyak mata pelajaran
2)        Tema harus bermakna, maksudnya ialah tema  yang dipilih unutk dikaji harus memberikan bekal bagi siswa untuk belajar selanjutnya.
3)        Tema harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan psikologis anak.
4)        Tema harus dikembangkan harus mewadahi sebagian besar minat anak.
5)        Tema yang dipilh hendaknya mempertimbangkan peristiwa-peristia otentik yang terjadi di dalam rentang waktu belajar
6)        Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan kurikulum yang berlaku serta harapan masyarakat ( asas relevansi)
7)        Tema yang dipilih hendaknya juga mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar.

b.         Prinsip Pengelolaan Pembelajaran
Pengelolaan pembelajaran dapat optimal apabila guru mampu menempatkan dirinya dalam keseluruhan proses. Artinya, guru harus mampu menempatkan diri sebagai fasilitator dan mediator dalam proses pembelajaran. Oleh sebab menurut Prabowo (2000), bahwa dalam hendaknya pembelajaran hendaknya guru dapat berlaku sebagai berikut :
1)        Gurunya hendaknya jangan menjadi kelompok mendominasi pembicaraan dalam proses belajar mengajar.
2)        Pemberian tanggung jawab individu dan kelompok harus jelas dalam setiap tugas yang menuntut adanya kerja sama kelompok.
3)        Guru perlu mengakomodasi terhadap ide-ide yang terkadang sama sekali kadang tidak terpikirkan dalam perencanaan.

c.         Prinsip Evaluasi
Evaluasi pada dasarnya menjadi fokus dalam setiap kegiatan. Bagaimana suatu kerja dapat diketahui hasilnya apabila tidak dilakukan evaluasi. Dalam hal ini untuk melaksanakan evaluasi dalam pembelajaran terpadu, maka diperlukan beberapa langkah-langkah positif, antara lain :
1)    Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan evaluasi diri ( self evaluation assesment) disamping bentuk evaluasi lainnya.
2)    Guru perlu mengajak para siswa untuk mengevaluasi perolehan belajar yang telah dicapai berdasarkan kriteria keberhasilan pencapaian tujuan yang akan dicapai.

d.        Prinsip Reaksi
Dampak pengiring, bagi perilaku secara sadar belum tersentuh oleh guru dalam KBM. Karena itu guru dituntut agar mampu mrencanakan dan melaksanakan pembelajaran tercapai secara tuntas tujuan-tujuan pembelajaran. Guru harus bereaksi terhadap aksi siswa dalam semua peristiwa serta tidak mengarahkan aspek yang sempit melainkan ke satu kesatuan yang utuh dan bermakna. Pembelajaran terpadu memungkinkan hal ini dan guru hendaknya menemukan kiat-kiat untuk memunculkan kepermukaan hal-hal yang dicapai melalui dampak pengiring.

II.3 Pentingya Pembelajaran Terpadu
Pembelajaran Terpadu memiliki cara penting dalam kegiatan belajar mengajar. Ada beberapa alasan yang mendasarinya, antara lain :

a)    Dunia anak adalah dunia nyata
Tingkat perkembangan mental anak selalu dimulai dengan tahap berpikir nyata. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka tidak melihat mata pelajaran berdiri sendiri. Mereka melihat obyek atau peristiwa yang di dalamnya memuat sejumlah konsep/materi beberapa mata pelajaran. Misalnya, saat mereka berbelanja di pasar, mereka akan dihadapkan dengan suatu perhitungan ( Matematika), aneka ragam mekanan sehat (IPA), dialog tawar-menawar (Bahasa Indonesia), harga yang naik turun (IPS), dan beberapa materi pelajaran lain.
b)   Proses pemahaman anak terhadap suatu konsep dalam suatu peristiwa/obyek lebih teroganisir
Proses pemahaman anak terhadap suatu konsep dalam suatu obyek sangat bergantung pada pengetahuan yang sudah dimiliki anak sebelumnya. Masing-masing anak selalu membangun sendiri pemahaman terhadap konsep baru anak menjadi “arsitek” pembangun gagasan baru. Guru dan orang tua hanya sebagai “fasilitator” atau mempermudah sehingga peristiwa belajar dapat berlangsung. Anak mendapat gagasan baru jika pengetahuan yang disajikan selalu berkaitan dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya.
c)    Pembelajaran akan lebih bermakna
Pembelajaran akan lebih bermakna kalau pelajaran, sudah dipelajari siswa dapat memanfaatkan untuk mempelajari materi berikutnya. Pembelajaran terpadu sangat berpeluan untuk memanfaatkan pengetahuan sebelumnya.
d)   Memberi peluang siswa untuk mengembangkan kemampuan diri
Pengajaran terpadu memberi peluang siswa untuk mengembangkan tiga ranah sasaran pendidikan secara bersamaan. Ketiga ranah sasaran pendidikan ini meliputi sikap ( jujur, teliti,tekun, terbuka terhadap gagasan ilmiah), keterampilan (memperoleh, memanfaatkan dan memilih informasi, menggunakan alat, bekerja sama, dan kepemimpinan), dan ranah kognitif (pengetahuan).
e)    Memperkuat kemampuan yang diperoleh
Kemampuan yang diperoleh dari satu mata pelajaran akan saling memperkuat kemampuan yang diperoleh dari mata pelajaran lain.
f)    Efisiensi Waktu
Guru dapat lebih menghemat waktu dalam menyusun persiapan mengajar. Tidak hanya siswa, guru  dapat belajar lebih bermakna terhadap konsep-konsep sulit yang akan diajarkan.
                           
II.4 Karakteristik Pembelajaran Terpadu
Menurut Depdikbud (1996:3), pembelajaran terpadu sebagai suatu proses mempunyai beberapa karakteristik atau ciri yaitu : holistik, otentik, dan aktif.

1.      Holistik
Suatu gejala atau fenomena yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran terpadu diamati dan dikaji dari beberapa bidang kajian sekaligus, tidak dari sudut pandang yang terkotak-kotak.
Pembelajaran terpadu memungkinkan siswa untuk memahami suatu fenomena dari segala sisi. Pada gilirannya, hal ini akan membuat siswa menjadi lebih arif dan bijak di dalam menyikapi atau menghadapi kejadian yang ada di depan mereka.
2.      Bermakna
Pengkajian suatu fenomena dengan banyak membentuk jalinan antar konsep-konsep yang berhubungan menghasilkan skemata. Hal ini akan berdampak pada kebermaknaan dari materi yang dipelajari.
Rujukan yang nyata dari segala konsep yang diperoleh, dan keterkaitannya dengan konsep-konsep lainnya akan menambah kebermaknaan konsep yang dipelajari. Selanjutnya hal ini akan mengakibatkan pembelajaran fungsional. Siswa mampu menerapkan perolehan untuk memecahkan masalah-masalah yang muncul didalam kehidupannya.
3.      Otentik
Pembelajaran terpadu memungkinkan siswa memahami secara langsung prinsip dan konsep yang ingin dipelajarinya melalui kegiatan belajar secara langsung. Dengan memahami dari hasil belajarnya sendiri, bukan pemberitahuan guru. Informasi dan pengetahuan yang diperoleh sifatnya menjadi lebig otentik. Hasilnya diperoleh siswa melalui kegiatan eksperimen. Guru lebih banyak bersifat fasilitator dan katalisator, sedang siswa bertindak sebagai aktor pencari informasi dan pengetahuan. Guru memberikan bimbingan ke arah mana yang dilalui dan memberikan fasilitas seoptimal mungkin untuk mencapai tujuan tersebut.
4.      Aktif
Pembelajaran terpadu menekankan kereaktifan siswa dalam pembelajaran baik secara fisik, mental, intelektual, maupun emosional guna tercapainya hasil belajar yang optimal dengan mempertimbangkan hasrat, minat dan kemampuan siswa sehingga mereka termotivasi untuk terus menerus belajar. Dengan demikian pembelajaran terpadu bukan semata-mata merancang aktivitas-aktivitas dari masing-masing mata pelajaran yang terkait. Pembelajaran terpadu bisa saja dikembangkan dari suatu tema yang disepakati bersama dengan melirik aspek-aspek kurikulum yang bisa dipelajari secara bersama melaluipengembangan tema tersebut.

II.5 Model Pembelajaran Terpadu
Menurut Forgaty (1991:15-17) ada 10 model yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran terintegrasi, yaitu :
1)      Fragmamted model
2)      Connected model
3)      Nested model
4)      Sequnced model
5)      Share model
6)      Webbed model
7)      Threathed model
8)      Integrated model
9)      Immersed model
10)   Networked model
Untuk keperluan penerapan pendekatan pembelajaran terpadu ini, maka setidak-tidaknya para guru diperkenalkan dan dilatih penggunaan model-model tersebut yang sekiranya fungsional dan tepat digunakan di SMP di Indonesia.
Beberapa model terintegrasi yang dikembangkan diatas dalam penerapannya  di Indonesia ada beberapa cara yang dapat dikembangan menurut Hamid Hasan (1997), yaitu :
1)   Mengambil salah satu disiplin ilmu dijadikan sumber materi utama, sedang disiplin ilmu lainnya untuk mrnambah kedalaman dan keluasan materi tersebut.
2)   Mencari pokok bahasan atau konsep yang sama untuk setiap disiplin, dengan merubah urutan pokok materi yang ada.
3)   Merumuskan pokok bahasan yang dikembangkan bersama ynag berkaitan dengan konsep-konsep materi dari berbagai disiplin ilmu yang dipadukan.
4)   Melakukan fusi konsep materi dari berbagai disiplin ilmu. Dengan demikian pokok materi bahasan tidak lagi diidentifikasikan dari suatu disiplin ilmu. Pokok materi bahasan hasil fusi ini harus dikembangkan dari fenomenayang ada dengan cara mengidentifikasi teori, konsep, prosedur yang berlaku untuk berbagai disiplin ilmu.
Dari empat alternatif pendekatan “pembelajaran terpadu” diatas tampaknya cara 1,2, dan 3,lebih memungkinkan untuk diterapkan dalam jangka waktu yang pendek dalam jangka waktu yang pendek  dalam pembelajaran di SMP,karena tidak mengurangi “hak dan otoritas” setiap guru  dalam pengembangan materi pelajaran yang selama ini dipelajarinya. Sedangkan cara ke 4 masih membutuhkan waktu yang panjang untuk diterapkan.
II.6 Teknik Penyusunan Tema dalam Pembelajarn Terpadu

Model pembelajaran terpadu pada hakikatnya merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip holistik dan otentik (Depdikbud, 1996:3). Salah satu diantaranya adalah memadukan Kompetensi Dasar melalui pembelajaran terpadu siswa dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang dipelajarinya. Dengan demikian, siswa terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari.
Pada pembelajaran terpadu, prigram pembelajaran disusun dari berbagai cabang ilmu baik dalam rumpun ilmu sosial maupun ilmu alam. Pengembangan pembelajaran terpadu, dalam hal ini, dapat mengambil suatu topik dari suatu cabang ilmu tertentu, kemudian dilengkapi, dibahas, diperluas, dam diperdalam dengan cabang ilmu yang lain. Topik/tema dapat dikembangkan dari isu, peristiwa, dan permasalahan yang berkembang. Bisa membentuk permasalahan yang dapat dilihat dan dipecahkan dari berbagai disiplin atau sudut pandang, contohnya banjir, pemukiman kumuh, potensi pariwisata, IPTEK, mobilitas sosial, modernisasi, revolusi yang dibahas dari berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial maupun alam.

         I.          Teknik Integrasi Berdasarkan Topik
Oval:         Sejarah    geografi

PENGEMBANGAN PARIWISATA

Sosiologi Ekonomi
 politikDalam pembelajaran terpadu dapat dilakukan berdasarkan topik yang terkait, misalnya ‘pariwisata’. Pariswisata dalam contoh yang dikembangkan ditinjau dari berbagai disiplin ilmu yang tercakup dalam Ilmu Pengetahuan Sosial. Pengembangan pariwisata dalam hal ini ditinjau dari persebaran dan kondisi fisis-geografis yang tercakup dalam disiplin Geografi. Secara Sosiologis, pariwisata itu juga dapat ditinjau dari partisipasi masyarakat, pengaruhnya terhadap kondisi sosial budaya setempat, dan interkasi antar wisatawan dengan masyarakat lokal. Secara historis dapat dikembangkan melalui sejarah daerah pariwisata tersebut. Keadaan politik juga dapat dikaji pula pada topik pengembangan pariwisata berkaitan dengan pengaruhnya terhadap perkembangan pariwisata. Selanjutnya dampak pariwisata terhadap perkembangan ekonomi lokal maupuan nasional dapat dikembangkan melalui kompetensi yang berkaitan dengan ekonomi. Skema berikut memberikan gambaran keterkaitan suatu topik/tema dengan berbagai disiplin ilmu.

Sejarah                                                                                          persebaran
Perkembangan                                                                                                     kondisi fisik
Daerah wisata.                                                                                                    daerah objek
                                                                                                                             Wisata.
Partisipasi                                                                                                                dampak
masyarakat.                                                                                                     terhadap
                                                                                                                        kesejahteraan
Pengaruh terhadap perkembangan                                                                  masyarakat.
masyarakat di sekitar objek wisata.
                                    Gambar 2: Model Integrasi Berdasarkan Topik/Tema
           II.Teknik Integrasi berdasarkan Potensi Utama

Keterpaduan dapat dikembangkan melalui topik yang didasarkan pada potensi utama yang ada di wilayah setempat; sebagai contoh, “Potensi Bali sebagai Daerah Tujuan Wisata”. Dalam pembelajaran yang dikembangkan dalam Kebudayaan Bali dikaji dan ditinjau dari faktor alam, sosial/antropologis, historis kronologis dan kausalitas, serta perilaku masyarakat terhadap aturan. Melalui kajian potensi utama yang terdapat pada beberapa disiplin yang tergabung dalam Ilmu Pengetahuan Sosial.

Keadaan Alam
 
Soisologis/antropologis
 
 

·        
BALI SEBAGAI DAERAH TUJUAN WISATA
 
                                                                                               
         .Potensi objek wisata                                                                     . Memupuk aspirasi
                                                                                                                                                terhadap kesenian.                                                                                                                                                                                
 



                    . Keamanan dan stabilitas daerah                            . Azas manfaat terhadap kesejahteraan rakyat
                        Gambar 3: Model Integrasi Berdasarkan Potensi Utama
   III.     Teknik Integrasi Berdasarkan Permasalahan

  Model pembelajaran terpadu lainnya berdasarkan permasalahan yang ada, contohnya adalah “Pemukiman Kumuh”. Pada pembelajaran terpadu, Pemukiman Kumuh ditinjau dari beberapa faktor sosial yang mempengaruhinya. Di antaranya adalah faktor ekonomi, sosial dan budaya. Juga dapat dari faktor historis kronologis dan kausalitas, serta perilaku masyarakat terhadap aturan/norma.
 Faktor sosial dan budaya
 
 

Perilaku terhadap aturan
 
Faktor Historis
 
PEMUKIMAN KUMUH
 
Faktor ekonomi
 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           







Gambar 4. Model Integrasi Berdasarkan Permasalahan
                    Langkah-langkah Pembelajaran Terpadu
          Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran terpadu bergantung pada kesesuaian rencana yang dibuat dengan kondisi dan potensi siswa (minat, bakat, kebutuhan dan kemampuan). Untuk menyusun perencanaan pembelajarab terpadu perli dilakukan langkah-langkah berikut ini.
1)    Pemetaan Kompetensi Dasar
2)    Penentuan Topik/Tema
3)    Penjabaran (perumusan) Kompetensi Dasar ke dalam indikator sesuai topik
4)    Pengembangan Silabus
5)    Penyusunan Desain/Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

II.6 Langkah-Langkah (Sintak) Pembelajaran Terpadu
            Pada dasarnya langkah-langkah (Sintak) pembelajaran terpadu mengikuti tahap-tahap yang  dilalui dalam setiap model pembelajaran yang meliputi 3 tahap yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi. ( Prabowo 2000).
            Sedangkan menurut Hadisuhroto (2000:21), dalam merancang pembelajaran terpadu sedikitnya ada empat hal yang perlu diperhatikan sebagai berikut:
1)      Menentukan Tema
2)      Menentukan materi/media
3)      Menyusun Skenario
4)      Menetukan Evaluasi

1.      Tahap Perncanaan

a.       Menentukan Jenis Mata Pelajaran dan Jenis Keterampilan yang dipadukan
                        Karakteristik mata pelajaran menjadi pijakan untuk kelanjutan awal. Seperti contoh diberikan oleh Forgatty (1991:28), untuk jenis mata pelajaran sosial dan bahasa dapat dipadukan keterampilan berpikir dan keterampilan sosial. Sedangkan untuk mata pelajaran sains dan matematika dapat dipadukan keterampilan berpikir (thingking skill) dan keterampilan mengorganisir (oruani-zng Skill).

b.      Memilih Kajian Materi, Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dan Indikator
Langkah ini akan mengarahkan guru untuk mencantumkan sub keterampilan dari masing-masing keterampilan yang dapat diiterperasikan dalam suatu unit pembelajaran.

c.       Menetukan Sub Keterampilan yang dipadukan
                        Secara umum keterampilan-keterampilan khusus yang harus dikuasai meliputi keterampilan berfikir (thingking skill), keterampilan sosial (social skill), dan keterampilan mengorganisasi (organizing skill) yang masing-masing terdiri atas sub-sub keterampilan. Sub-sub keterampilan yang dapat dipadukan diperlukan pada tabel 1.1 dibawah ini.
                        Tabel Unsur-Unsur Ketrampilan berpikir, keterampilan Sosial, dan keterampilan mengorganisasi

Keterampilan analisis berpikir
Keterampilan sosial
Keterampilan organisasi mengorganisasi

Memprediksi
Menyimpulkan
Membuat Hipotesis
Membandingkan
Mengklasifikasi
Mengeneralisasi
Membuat skala Prioritas
mengevaluasi

Memperhatikan pendapat
Mengkalsifikasi
Menjelaskan
Memberanikan diri
Menerima pendapat
Mengolah pendapat
Menyepakati
Meringkaskan

Jaringan
Diagram Venn
Diagram alir
Lingkaran sebab akibat
Diagram akut/tidak akut
Kisi-kisi/matrik
Diagram rangka ikan
                        (sumber: Forgatty, 1991:25)
d.      Merumuskan Indikator Hasil Belajar (TIK)
                        Berdasarkan kompetensi dasar dan sub keterampilan yang telah dipilih dirumuskan indikator. Setiap indikator dirumuskan berdasarkan kaidah penulisan yang meliputi : audince,behavior, condition dan degree.

e.       Menentukan langkah-langkah pembelajaran
                        Langkah ini diperlukan sebagai strategi guru untuk mengintegrasikan setiap sub keterampilan yang telah dipilih pada setiap langkah pembelajaran.

2.      Tahap Pelaksanaan
      Prinsip-prinsip utama dalam pembelajaran terpadu, meliputi: guru tidak mendominasi dalam kegiatan pembelajaran. Peran guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran memungkinkan siswa menjadi pembelajaran mandiri: kedua, pemberian tanggung jawab individu dan kelompok harus jelas dalam setiap tugas yang  menuntut adanya kerja sama kelompok; dan ketiga, guru perlu akomodatif terhadap ide-ide yang terkadang sama sekali tidak terpikirkan dalam proses perencanaan Depdiknas (1996:G)

      Tahap pelaksanaan pembelajaran mengikuti skenario langkah-langkah pembelajaran. Menurut Muchlas (2001), tidak ada model pembelajaran tunggal yang cocok untuk suatu topik pembelajaran terpadu, artinya dalam satu tatap muka dipadukan beberapa model pembelajaran.

3.      Tahap Evaluasi
      Tahap evaluasi dapat berupa evaluasi proses pembelajaran dan evaluasi hasil pembelajaran. Tahap evaluasi  menurut Departemen Pendidikan Nasional (1996:G), hendaknya memperhatikan prinsip evaluasi pembelajaran terpadu.
1)      Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan evaluasi diri disamping untuk evaluasi lainnya.
2)      Guru perlu mengajak para siswa untuk mengevaluasi perolehan belajar yang teliti berdasarkan kriteria keberhasilan harapan, tujuan yang akan dicapai.
        Sementara itu menurut Prabowo (2000), langkah-langkah(sintaks) pembelajaran terpadu secara khusus dapat dibuat tersendiri berupa langkah-langkah baru dengan ada sedikit perbedaan yakni sebagai berikut :
a.       Tahap Perencanaan:
1)      Menentukan Kompetensi Dasar
2)      Menentukan Indikator dan Hasil Belajar
b.      Langkah yang ditempuh guru:
1)      Menyampaikan konsep pendukung yang harus dikuasai siswa
2)      Menyampaikan konsep-konsep pokok yang akan dikuasai siswa
3)      Menyampaikan keterampilan proses yang akan dikembangkan
4)      Menyampaikan alat dan bahan yang dibutuhkan
5)      Menyampaikan pertanyaan kunci
c.       Tahap Pelaksanaan:
1)      Pengelolaan kelas, dimana kelas dibagi dalam beberapa kelompok
2)      Kegiatan proses
3)      Kegiatan pencatatan data
4)      Diskusi
d.      Evaluasi
1)      Evaluasi proses
a.         Ketepatan hasil pengamatan
b.        Ketepatan penyusunan alat dan bahan
c.         Ketepatan menganalisis data
2)      Evaluasi hasil
-          Penguasaan konsep-konsep sesuai indikator yang telah ditetapkan
3)      Evaluasi psikomotorik
-  penguasaan penggunaan alat ukur


















CONTOH RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN/DESAIN PEMBELAJARAN IPS TERPADU

SATUAN PENDIDIKAN                 : SMP/MTs
MATA PELAJARAN                                    : ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
KELAS                                               : VII
TOPIK                                                : KEGIATAN EKONOMI PENDUDUK
ALOKASI WAKTU                          : 4x45 MENIT (2XPERTEMUAN)
A.  Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Geografi:    1. Memahami kegiatan ekonomi masyarakat
            6.1 mendeskripsikan pola kegiatan ekonomi penduduk, penggunaan lahan, dan pola pemukiman berdasarkan kondisi fisik permukaan bumi.
Sosiolog:    2. Memahami kehidupan sosial masyarakat
                               2.1 Mendiskripsikan interaksi sebagai proses sosial.
Ekonomi:   3. Kemampuan memahami unsur-unsur usaha berekonomi
                               6.2 Mendeskripsikan kegiatan pokok ekonomi yang meliputi kegiatan konsumsi, produksi dan distribusi barang/jasa.
Sejarah:     4. Kemampuan memahami perjalanan bangsa Indonesia pada masa Hindhu
-Budha dan Islam sampai abad ke-18.
                               5.2 Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Islam di Indonesia, serta peninggalan-peninggalannya.
B. Tujuan Pembelajaran
     Peserta didik mampu mengklasfikasi kegiatan ekonomi penduduk serta perannya di wilayah Asia Tenggara.
C.Pendekatan dan Metode Pembelajaran
    1. Pendekatan         : Konstektual
    2. Metode               : Ceramah, diskusi, tanya jawab dan penugasan.
D. Sumber, Alat,dan Bahan Pembelajaran
     Kurikulum, buku-buku pelajaran IPS yang relevan, dan gambar-gambar tentang aktivitas ekonomi penduduk.
E. Langkah-Langkah Pembelajaran

Tahapan kegiatan
Kegiatan
Kegiatan awal/ pendahuluan
·      Mengamati gambar berbagai kegiatan ekonomi masyarakat sekitar
·      Tanya jawab tentang berbagai kegiatan ekonomi
Kegiatan Inti
·      Guru menunjuk salah seorang siswa untuk menjelaskan tentang tugas yang telah diberikan pada pertemuan sebelumnya.
·      Salah seorang peserta didik menjelaskan tugas yang telah dikerjakannya.
·      Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan berbagai jenis aktivitas perekonomian penduduk, alasan penduduk memilih tempat tinggal, jenis-jenis barang konsumsi, hasil-hasil industri jasa, potensi sumber daya alam di Indonesia, dampak positif dan negatif kehadiran bangsa lain dalam masyarakat Indonesia, peranan Indonesia dalam perdagangan dunia.
·      Peserta didik melakukan diskusi kelompok.
·      Setap kelompok mempresentasikan hasil diskusi, dan kelompok lain menanggapinya.
Kegiatan Akhir/Penutup
·      Peserta didik membuat laporan hasil diskusi.
·      Guru memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah (PR).
·      Guru memberikan pesan-pesan moral sehubungan dengan aktivitas ekonomi penduduk, nisalnya kerjasama, mendengarkan pendapat orang lain, dll.
·      Guru memberikan penghargaan pada kelompok yang kerjanya bagus, dan memberikan nasehat untuk penyempurnaan bagi kelompok yang kurang bagus.


F. Penilaian
1. Tes tertulis
2. Hasil Laporan Kelompok (diskusi kelompok)
Contoh Soal:
1.          Berikan lima contoh kegiatan-kegiatan ekonomi penduduk!
2.          Jelaskan alasan penduduk tinggal pada suatu daerah!
3.          Sebutkan lima contoh barang konsumsi!
4.          Apakah dampak positif dan negatif adanya kehadiran bangsa lain (bangsa Barat) ke Indonesia!
No
Nama
Aspek Penilaian
Skor Nilai
kerjasama
Kebenaran jawaban
Cara kerja






Format penilaian hasil laporan



Sugiyanto.2010.Model-Model Pembelajaran Inovatif.Surakarta:Yuma pustaka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar